Sederet Pahlawan yang Dibuang dan Meninggal di Tempat Pembuangan : CakrawalaRafflesia Nasional

KEMERDEKAAN Indonesia tidak mudah dijangkau. Darah, keringat dan air mata para pejuang dan rakyat dipertaruhkan. Bahkan sebagian dari para pejuang kemerdekaan dengan kejam dibuang ke suatu tempat hingga akhirnya menghembuskan nafas di sana.

(Baca juga: Deretan Pahlawan Asal Bogor, Dua Pejuang yang Diabadikan Sebagai Nama Jalan)



Berikut beberapa hero yang dibuang dan tewas di tempat pembuangannya dilansir berbagai sumber, Minggu (17/4/2022).

1. Syekh Yusuf

Syekh Yusuf Tajul Khalwati adalah Pahlawan Nasional dari Makassar. Dikutip dari Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Syekh Yusuf dibesarkan dalam keluarga bangsawan tinggi di antara suku Makkasar. Ia lahir pada 3 Juli 1626.

Sejak kecil, Syekh Yusuf rajin mendalami agama Islam. Ia mempelajari bahasa Arab, fiqih, dan berbagai ilmu syariat lainnya. Perjuangannya dimulai ketika ia kembali dari Mekkah dan mendarat di Banten. Saat itu, Syekh Yusuf mendengar kabar bahwa Makassar telah diduduki Belanda. Kedatangannya disambut oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan tinggal di Banten selama 16 tahun sampai tahun 1680.

Terjadi perang antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji, yang membuat Syekh Yusuf memihak Sultan Ageng dengan membawa pasukan Makassar. Namun, Sultan Ageng kalah dan melarikan diri bersama rombongannya, termasuk Syekh Yusuf.

Pada tahun 1684, Syekh Yusuf ditangkap oleh Belanda. Ia dipenjarakan di benteng Batavia. Namun karena khawatir Belanda akan kabur lagi, Syekh Yusuf dan keluarganya diasingkan ke Sri Lanka pada tahun 1684.

Ternyata, pihak Belanda masih merasa terancam dengan kehadiran Yusuf yang mempengaruhi para pengikutnya untuk memberontak. Maka dia kembali diasingkan ke Afrika Selatan bersama 49 pengikutnya pada tahun 1693. Syekh Yusuf ditempatkan di pertanian Zandvliet, jauh dari Cape Town. Selama pengasingannya, Syekh Yusuf aktif menyebarkan agama Islam di Afrika Selatan, hingga akhirnya meninggal di sana pada 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun.

Baca Juga :  Himpunan

2. Sultan Mahmud Badaruddin II

Sultan Mahmud Badaruddin lahir di Palembang pada tanggal 23 November 1767 dengan nama asli Raden Hasan Pangeran Ratu. Ia adalah putra dari Raja Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Muhammad Bahauddin. Setelah ayahnya meninggal, Raden Hasan diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Palembang mencapai puncak kejayaan. Pada pertengahan abad ke-18, Palembang menjadi incaran Inggris dan Belanda, sehingga kedua negara bermaksud untuk bekerjasama dengan Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin menolak keduanya, tetapi kemudian memutuskan untuk bekerja sama dengan Inggris.

Hal ini membuat Belanda marah. Terjadi perang di pondok Sungai Aur pada tanggal 14 September 1811. Konflik antara Belanda-Inggris-Palembang kemudian berakhir dengan Inggris menguasai Palembang.

Kemudian, terjadilah perang kedua yang disebut Perang Menteng pada tanggal 12 Juni 1819 antara Belanda dan Palembang. Setelah beberapa kali mengalami kekalahan (mulai Oktober 1819 – Juni 1821), Belanda berhasil merebut Palembang pada 14 Juli 1821. Belanda menangkap dan mengasingkan Sultan Mahmud Badaruddin beserta keluarganya ke Ternate. Dia menghabiskan sisa hidupnya di sana sampai kematiannya pada tanggal 26 September 1852. Hari ini, wajah Sultan Mahmud Badaruddin II diabadikan dalam uang 10.000.


3. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang mewakili Aceh. Ia terlibat dalam perang melawan Belanda selama Perang Aceh. Cut Nyak lahir pada tahun 1848 dan berasal dari keluarga bangsawan yang taat beragama. Saat berusia 12 tahun, ia menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang juga keturunan bangsawan. Mereka memiliki satu putra.

Ketika Perang Aceh pecah pada tanggal 26 Maret 1873, Teuku Ibrahim ikut serta dalam perang tersebut. Ia berusaha memperjuangkan daerah IV Mukim yang berhasil diduduki Belanda. Sayangnya, Ibrahim tewas dalam pertempuran itu. Kematian suaminya memicu kemarahan Cut Nyak Dien untuk sepenuhnya menyingkirkan Belanda dari tanah Aceh.

Baca Juga :  Himpunan

Cut Nyak Dien kemudian menikah dengan Teuku Umar pada tahun 1880. Dia dan suaminya bersama para pejuang Aceh lainnya semakin bersemangat melawan serangan Belanda. Namun, Teuku Umar gugur dalam pertempuran Meulaboh pada tahun 1899. Cut Nyak Dien kemudian ditangkap pada tahun 1905 oleh penjajah Belanda. Dia diasingkan ke Sumedang dan tinggal di pengasingannya sampai dia meninggal pada tanggal 6 November 1908.

Tinggalkan komentar